Selasa, 04 Januari 2022

Panduan Praktis Kegiatan Survei dan Pengukuran pada Proyek Bangunan

Pemeriksaan dan pengukuran lahan  

Pada saat peninjauan lokasi, tentunya kita hanya akan mendapatkan informasi dan data mentah yang perlu diolah kembali. Terlebih lagi bila data tersebut bersifat teknis. Nah, untuk itulah diperlukan pemeriksaan untuk mendapatkan data kuantitatif yang lebih terperinci dan valid. Data tersebut dapat diperoleh dari kegiatan pemeriksaan dan pengukuran lahan yang dilakukan oleh surveyor dengan menggunakan teodolit (theodolite).

Lalu apa yang akan dilkerjakan dalam kegiatan pemeriksaan dan pengukuran lahan? Dengan data koordinat, maka kita akan mengukur kembali poligon lahan yang merupakan batas lokasi proyek. Bukankah jauh sebelumnya sudah ada pengukuran dari instansi terkait yaitu Badan Pertanahan Nasional (BPN)? Memang benar sebelumnya sudah dilakukan pengukuran, namun bisa saja setelah itu  terjadi pergeseran patok baik yang disengaja maupun tidak disengaja atau oleh kondisi alam dan lingkungan.

Bila terjadi perubahan atau ketidaksesuaian dari hasil pemeriksaan dan pengukuran, maka kita wajib berkoordinasi kembali dengan BPN dan tidak boleh memutuskan sepihak untuk menggeser patok. Pemeriksaan manual secara langsung di lokasi dengan penarikan meteran juga dilakukan terhadap jarak antar titik poligon, untuk menyesuaikan jarak teoritis berdasarkan koordinat serta ukuran yang tertera pada teodolit.   


   

                                                          Fig. 1.(a & b). Pemeriksaan dan pengukuran lahan

Penetapan level referensi

Setelah permasalahan poligon lahan telah sesuai, kemudian akan dilakukan pengukuran level lahan. Seberapa banyak titik yang harus diukur, itu tergantung pada kontur tanah eksisting. Titik yang diambil harus mewakili level tanah berdasarkan grid atau lajur lahan di sekitarnya. Saluran yang ada juga mesti diukur kedalamannya. Namun jika berbentuk sungai bisa diperkirakan berapa kedalamannya tanpa harus menggunakan alat (jika tidak diperlukan data detail).

Level acuan atau referensi yang digunakan untuk sinkronisasi seluruh titik yang diukur perlu ditentukan dan dibuat. Patok poligon sebelumya juga harus dipermanenkan berupa patok beton yang ditanam cukup dalam di bawah permukaan tanah dan sekaligus dimanfaatkan sebagai level referensi. Pembuatan level referensi dilakukan pada beberapa titik tersebar sebagai cadangan bila hilang nanti dan dapat digunakan untuk pemeriksaan silang (cross check). Hal ini juga penting untuk efisiensi, untuk proyek dengan lahan yang sangat luas.


 Fig.2 (a & b). Survei saluran dan patok

Pengolahan data dan analisis   

            Data hasil pengukuran level dan jarak antar poligon dari surveyor, dapat digunakan untuk bahan analisis volume potong dan timbun tanah dalam satu lokasi. Analisis ini, jika memungkinkan, harus dioptimalkan agar tidak ada tanah yang dimasukkan atau dikeluarkan dari lokasi proyek. Data pengukuran ini juga dapat digunakan olen bagian desain atau konsultan / arsitek yang ditunjuk untuk melakukan perancangan konstruksi.

Selanjutnya pihak desain akan menentukan level 0 (nol) bangunan sebagai acuan level bangunan tingkat di atasnya. Penentuan titik 0 bangunan berdasarkan kondisi lahan yang telah matang termasuk pengupasan lahan. Jika telah selesai proses desainnya, maka gambar tersebut akan siap untuk dieksekusi pada saat proses pembangunan.

Pengukuran bowplank

            Tugas berikutnya dari surveyor adalah melakukan pengukuran bowplank yang telah dibuat di lokasi berdasarkan gambar denah pondasi dari pihak desain. Desain pondasi ini ditentukan setelah pekerjaan penyelidikan tanah dalam kegiatan berbeda pada tulisan lain dan pematangan lahan telah selesai. Para pekerja membuat ukuran bowplank berdasarkan ukuran pendekatan sesuai jarak pada gambar kerja. Bowplank harus dibuat selevel dengan ketinggian sekitar 0.60 m sampai 1.00 m dan sebaiknya dimulai dari kontur tanah yang lebih tinggi. Bila kontur tanah berbeda level cukup jauh, maka harus dibuat bowplank bertingkat dengan pinjaman level bowplank sebelumnya.


         

Fig.3 (a & b). Pembuatan bowplank

Surveyor akan melakukan pengukuran dengan teodolit untuk menentukan titik as pondasi bangunan. Kemudian dilanjutkan dengan penentuan titik nol bangunan berdasarkan gambar desain dan menyesuaikan dengan level referensi. Titik nol bangunan akan disinkronkan pada level bowplank, sehingga nilai level bowplank dapat ditentukan. 

Pada kasus jika hasil analisis perhitungan struktur berdasarkan data penyelidikan tanah mesti menggunakan pondasi dalam seperti tiang pancang, maka pekerjaan bowplank dilanjutkan setelah pekerjaan tiang pancang selesai. Surveyor akan menentukan titik dan posisi pemancangan di lokasi terlebih dahulu. Setelah selesai baru dilanjutkan dengan pekerjaan bowplank dan penentuan as pilecap serta kolom dan kegiatan tahap konstruksi dapat dilanjutkan.

Sabtu, 01 Januari 2022

Inilah 22 Istilah Penting Dalam Pekerjaan Konstruksi Baja

        Struktur beton bertulang merupakan jenis konstruksi yang lazim dijumpai di sekitar kita, namun berbeda lagi dengan konstruksi struktur baja. Tentu saja karakteristik, sistem mekanika, spesifikasi bahan dan komponennya sangat berbeda.dengan struktur beton, termasuk istilah-istilah di dalamnya. Pada struktur baja, ternyata istilah yang terdapat dalam pekerjaan tersebut, sebagian besar masih merupakan istilah bahasa asing terutama bahasa Inggris, yang sangat sedikit ada padanan kosakata dalam bahasa Indonesia. Ini merupakan kendala bagi rekan-rekan yang baru berpengalaman pada pekerjaan struktur baja.  

         

Fig.(a & b). Gambar gudang dari struktur baja


Istilah asing yang dijumpai tentu cukup banyak, namun kali ini hanya dibahas 22 istilah umum yang sering terdengar dalam pekerjaan struktur baja.

1.  anchor bolt

adalah batang baja mutu tinggi yang berulir pada satu sisi atau seluruhnya yang tertanam dalam beton sebagai komponen penyambung komponen struktur atau mesin. Pada konstruksi baja biasanya ditanam ke dalam cor pedestal.atau ditanam pada lubang pengeboran yang direkatkan dengan bahan kimia.

2.  grouting

grouting adalah proses pengisian komponen campuran semen, zat additif dan air ke dalam rongga beton atau bagian sambungan angkur secara manual maupun injeksi. Grouting biasanya sudah tersedia dalam bubuk dan hanya dicampur dengan air.

3.  endplate

adalah potongan plat baja yang dilas pada ujung profil baja H atau WF dengan ketebalan tertentu. Plat yang dilas pada kolom bagian bawah disebut baseplate dan berukuran lebih besar dari profil, tapi lebih kecil dari pedestal. Sedangkan plat yang dilas pada bagian atas kolom dan ujung balok itu disebut cap plate. Plat ini berfungsi sebagai bidang sambungan antar komponen baja.

4.  cleat plate

adalah plat model siku yang berfungsi untuk menyambung member atau komponen struktur baja dan umumnya menggunakan baut, namun pada sebagian komponen struktur yang ringan ada yang dilas.

5.  gusset plate

adalah potongan plat rata yang bervariasi bentuknya yang berfungsi untuk menyambung beberapa member dan biasanya diterapkan pada titik buhul struktur baja. Seperti pada umumnya, sambungannya juga menggunakan baut atau mungkin kita pernah melihat jika sebagian kecil masih ada yang menggunakan paku keling.

6.  stiffener atau rib

adalah potongan plat baja berukuran presisi yang menyatukan kedua bidang sayap (flange) dan dilas sekaligus pada bagian badan profil (web). Meskipun kelihatan sepele, stiffener atau pengaku ini sangat berperan penting dalam mengurangi gaya tekuk batang baja. Stiffener dipasang pada kolom dan balok dengan jarak tertentu.

7.  haunch

adalah komponen baja yang terdapat pada sambungan kolom & balok dengan prinsip mekanisme “strong column weak beam”. Elemen haunch baja bisa berbentuk modifikasi flange-rib, reduced beam & top-bottom haunch plate pada flange profil WF. Haunch yang berfungsi sebagai pengaku bagian sudut kolom atau balok WF, biasanya dibuat dari WF yang dipotong diagonal menyesuaikan kemiringan yang didesain.

8.  jack beam

adalah balok tempat perletakan rafter yang dirancang tidak memiliki kolom di bawahnya dan balok ini akan memikul beban dari bentangan tersebut untuk disalurkan ke kolom pada kedua ujungnya.

9.  column

adalah komponen yang paling utama dan sangat menentukan kestabilan bangunan, termasuk pada konstruksi baja. Kolom baja biasanya menggunakan baja profil H atau H beam dan ada juga yang menggunakan profil I atau WF

10.  beam atau tiebeam

adalah profil WF yang dipasang secara mendatar untuk mengikat kolom-kolom bangunan struktur baja.

11.  modified beam

adalah balok WF yang dimodifikasi yaitu truss beam and castellated beam

Truss beam adalah balok yang menggunakan profil lebih kecil dan dibuat menjadi sistem rangka yang biasa disebut model Cremona. Sedangkan castellated beam adalah balok yang dibuat dari belahan profil WF yang berpola dan disatukan kembali, Castellated atau disebut juga honey comb beam memiliki tampilan berlubang-lubang dan memiliki ukuran H (tinggi) yang lebih besar. Kedua model balok ini biasanya diterapkan sebagai balok pada bentangan yang besar agar lebiih ekonomis, tanpa mempengaruhi kekuatannya.

12.  rafter

adalah balok miring pada struktur atap sebagai tempat perletakan purlin (gording) Balok ini berfungsi sebagai kuda-kuda seperti pada atap rumah dan pada struktur baja dapat menggunakan WF atau rangka batang dari profil C dan U (truss beam)

13.  purlin

adalah komponen struktur baja yang berupa profil C (channel) dan berfungsi sebagai gelagar untuk menahan beban penutup atas

14.  sagrod

batang besi beton yang menghubungkan gording C pada konstruksi atap atau wall cladding pada dinding dengan jarak tertentu yang berfungsi untuk memberikan tegangan dan mencegah lendutan pada gording / purlin.

15.  wind bracing

artinya ikatan angin yaitu seling, besi beton atau profil baja L yang dibuat menyilang antara dua komponen struktur baja yang berdekatan sebagai pengaku dan mencegah deformasi atau defleksi akibat beban sendiri dan beban angin.

16.  turnbuckle

sering disebut sebagai jarum keras yaitu suatu komponen penghubung dengan as batang berulir yang dapat disetel memanjang (kendor) dan memendek (kencang). Komponen ini dipakai untuk menyetel ikatan angin atau wind bracing pada struktur baja dan bisa juga mengencangkan tarikan seling pada konstruksi tertentu.

17.  bondeck

adalah lembaran plat baja tipis yang bergelombang dan berlapis galvanis dengan ketebalan 0.65-1.0 mm yang menyatu dengan beton lantai dan dipasang sebagai pengganti tulangan lapis bawah dan diaplikasikan tanpa bekisting.

18.  shear connector:

adalah komponen join atau potongan besi beton yang dilas pada struktur baja sebagai media sambungan antara beton dan struktur baja.

19.  cladding  

adalah komponen eksterior pada suatu bagian konstruksi yang berfungsi untuk memperindah tampilan luar dan atau melindungi bagian di dalamnya.

20.  fascia                    

adalah bagian atap spandek yang berfungsi sebagai lisplank pada bangunan umum. Biasanya terdapat rangka besi hollow dan menyatu dengan rangka talang

21.  gutter

adalah bagian konstruksi yang berfungsi untuk mengalirkan atau mengalihkan air dari suatu tempat ke tempat lainnya. Gutter bisa berada pada posisi di tanah, yang biasa disebut saluran, namun juga dapat berada di atap bangunan, yang lazim disebut talang.

22.  flushing

komponen pada sambungan atap dengan dinding atau talang, yang biasanya menggunakan seng talang atau lembaran karet yang berfungsi untuk mencegah tampias air yang mengalir pada atap.

        Sebenarnya masih banyak lagi istilah dalam pekerjaan struktur baja, namun akan kita bahas dalam kategori yang berbeda. Jadi dengan mengetahui beberapa istilah yang juga agak sulit dilafalkan, kita lebih percaya diri lagi dan tidak terjadi salah komunikasi.

Kamis, 30 Desember 2021

Apa yang Perlu Dilakukan Saat Peninjauan Lokasi pada Proyek Baru?

        Pada saat mendapatkan proyek baru, kita tentu akan merasa senang dan berusaha untuk melakukan semua hal dengan baik. Kita berharap agar semua target dan perencanaan yang telah dilakukan akan berjalan dengan lancar. Namun harapan seperti itu memerlukan upaya yang tidak sedikit untuk mencapai perencanaan yang matang, terutama pada proyek berskala besar. Oleh sebab itu ada beberapa langkah awal yang lazim dilakukan para praktisi proyek konstruksi yang akan kita bahas.

        Survei atau peninjauan lokasi sudah pasti menjadi hal pertama yang dilakukan. Namun peninjauan lokasi ini tidak hanya terbatas pada kunjungan seremonial saja. Banyak hal yang mesti kita perhatikan dengan baik sebagai masukan untuk tahap perencanaan konstruksi dan identifikasi awal terhadap permasalahan proyek yang berpotensi akan terjadi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan peninjauan lokasi.

Observasi lokasi secara umum

1.  Jalan akses dalam dan luar lokasi

Jalan akses menjadi hal yang sangat penting pada awal pelaksanaan proyek. Bukan hanya yang berada di dalam lokasi proyek saja, tapi juga ketersediaan jalan akses dari luar menuju lokasi proyek.

2.  Kondisi lalu lintas menuju lokasi proyek

Pemantauan terhadap kondisi lalu lintas untuk perencanaan transportasi material dan jadwal mobilisasi alat berat (jika diperlukan)

3.  Pengamatan situasi lokasi

Pengamatan umum ini terkait ada tidaknya bangunan atau konstruksi eksisting yang perlu dibongkar. Apakah area lahan yang perlu dibersihkan atau tidak? Apakah ada pohon penghijauan dan tiang listrik atau telepon yang berada pada jalan pintu masuk?


                       Fig.1 (a & b). Peninjauan lokasi pada lahan proyek baru

Survei lingkungan di sekitar lokasi proyek

1.  Bangunan dan konstruksi di sekitar lokasi proyek

Untuk menghindari dampak proyek yang signifikan, maka kita perlu mengamati kondisi bangunan atau konstruksi eksisting yang ada. Dokumentasi berupa foto dan video sangat penting sebagai pertimbangan pada perencanaan jenis pondasi dan peralatan apa yang sesuai untuk diterapkan di lokasi.

2.  Infrastruktur dan fasilitas dalam wilayah proyek

Ketersediaan jaringan listrik, air, telekomunikasi dan internet menjadi hal yang penting bagi pelaksanaan proyek, termasuk kedekatan dengan fasilitas publik. Jarak batching plant dan supplier utama yang dekat lokasi proyek akan mendukung efisiensi pengadaan material.

3.  Kegiatan masyarakat pada lingkungan area proyek

Berikutnya yang penting untuk diketahui adalah aspek sosial seperti keberadaan tempat ibadah, cagar budaya dan pusat perekonomian. Untuk memelihara interaksi dan penerimaan yang positif, maka proyek perlu menyesuaikan kegiatannya sehingga tidak mengganggu kegiatan ibadah dan tidak melanggar budaya setempat. Kegiatan transaksi berupa kebutuhan sehari-hari para pekerja pun dapat difasilitasi di area sekitar proyek, sehingga memberi manfaat ekonomis bagi masyarakat sekitar lokasi proyek.

                           

    

Fig.2 (a & b). Lingkungan sekitar proyek

Tinjauan teknis tahap awal

1.  Sistem drainase

Dalam peninjauan lokasi, perlu diperhatikan posisi saluran air atau sungai yang terdekat di sekitar lokasi proyek yang berguna untuk perencanaan drainase.

2.  Kontur tanah

Perkiraan level lahan proyek dengan akses jalan eksisting sebaiknya diketahui, meskipun belum perlu dilakukan pengukuran (tahap berikutnya). Variasi kontur tanah dalam lokasi akan berguna sebagai perkiraan awal level nol bangunan.

3.  Struktur tanah

Untuk mengetahui struktur tanah secara akurat tentu harus melalui penelitian tanah (soil investigation). Namun tidak ada salahnya melakukan pengamatan visual terlebih dahulu di lokasi proyek. Dari pengamatan visual, kita melakukan identifikasi umum, seperti apakah tanah di lokasi termasuk tanah rawa, gambut, lempung, batu atau tanah berpasir Termasuk juga informasi tentang lahan termasuk tanah asli atau tanah timbun.

  

     

Fig.3 (a & b). Tampak visual struktur tanah

Informasi eksternal

Suatu hal yang sangat menguntungkan, apabila dapat berinteraksi dengan masyarakat atau dengan orang yang pernah mengerjakan proyek di sekitar lokasi. Mungkin dari beberapa orang tersebut, bisa diperoleh informasi tambahan baik yang bersifat teknis maupun nonteknis.

Pada saat melakukan peninjauan lokasi, barangkali tidak semua informasi kita dapatkan sekaligus dan bisa saja lebih dari sekali kunjungan. Jika proyek yang dikerjakan hanya proyek kecil, data yang diperlukan pada saat survei juga tidak terlalu banyak. Bila kita sudah mendapatkan data yang cukup valid, maka selanjutnya memasuki tahap perencanaan proyek yang akan dibahas pada tulisan berikutnya. Dengan data awal peninjauan lokasi, maka perencanaan proyek akan dapat dilakukan lebih mudah dan lebih efektif.

Minggu, 26 Desember 2021

Kajian 13 Faktor Penyebab Utama Keterlambatan pada Proyek Konstruksi

        Keterlambatan pekerjaan dan penyelesaian proyek merupakan kendala yang paling sering dihadapi oleh berbagai pihak pada suatu proyek konstruksi. Satu atau beberapa pekerjaan yang terlambat secara parsial dapat mempengaruhi serah terima konstruksi secara global. Keterkaitan berbagai jenis pekerjaan biasanya ditunjukkan dalam network diagram PDM (Precedence Diagram Method) atau CPM (Critical Path Method) yang telah dibuat pada tiap proyek.

Gambar 1.Keterkaitan aktivitas proyek dalam PDM

    Sebagai kontraktor dan pihak yang terkait dengan kepentingan jadwal penyelesaian proyek, seringkali kita tidak bisa tidur nyenyak. Pemikiran tentang biaya operasional yang pasti meningkat, jadwal peresmian bangunan atau konstruksi yang tertunda dan penalti baik yang menimpa kontraktor maupun pemilik bisnis adalah contoh masalah yang akan dihadapi sebagai konsekwensinya. Keterlambatan proyek pasti pernah dialami oleh semua pelaku usaha di bidang proyek konstruksi. Ada yang mungkin sekali dua kali, bahkan ada yang berulang kali. Persentase keterlambatan proyek bisa bervariasi dari yang kecil sampai besar dan akan terbaca dari kurva S pekerjaan.

Gambar 2. Kurva S pelaksanaan kegiatan proyek

    Mengapa keterlambatan proyek bisa terjadi atau bahkan sering terjadi dan berulang-ulang? Penanganan suatu proyek konstruksi tidaklah sederhana seperti proyek pada sektor lain. Penggunaan sumber daya yang masif dari dana, tenaga kerja, material, peralatan dan metode merupakan unsur utama yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya pencapaian target suatu proyek. Setiap unsur tersebut memiliki permasalahan kritikal yang mesti ditangani dengan tepat. Berdasarkan pengalaman berbagai pihak dan pada beragam jenis proyek, dapat disimpulkan bahwa ada 13 faktor dominan yang mempengaruhi keterlambatan suatu proyek konstruksi. Semua faktor tersebut tentu saja merupakan kontribusi dari berbagai permasalahan dari unsur utama yang telah disebutkan. 

    Berikut ini adalah ketiga belas faktor tersebut, tanpa memperhatikan urutan signifikansi pengaruhnya:

1.  Jumlah tenaga kerja yang tidak mencukupi. Hal ini biasanya terjadi akibat:

a.    Perhitungan dan alokasi kebutuhan pekerja konstruksi yang kurang sesuai

b.    Perekrutan tenaga kerja yang menyimpang waktunya dari jadwal yang ditentukan

c.    Tidak tersedianya tenaga kerja yang dibutuhkan (terlalu banyak proyek atau terlalu lama vakum)

2.  Produktivitas pekerja konstruksi yang rendah, penyebabnya bervariasi:

a.    Tenaga kerja yang digunakan memilki kemampuan yang kurang

b.    Keahlian atau ketrampilan tenaga kerja di lapangan tidak sesuai dengan bidangnya.

c.    Keluar masuk pekerja yang sering terjadi (turn over yang tinggi)

3.  Kekosongan material di lokasi pekerjaan

a.    Permintaan material yang tidak terjadwal dari pelaksana

b.    Perhitungan kebutuhan material yang tidak akurat

c.    Kesalahan pengiriman material (jenis dan spesifikasi)

4.  Keterlambatan kedatangan material di lapangan

a.    Keterlambatan pembelian (dari pihak purchasing atau proses persetujuan)

b.    Adanya kendala dari pihak supplier sendiri (transportasi, jadwal kiriman bentrok)

c.    Permasalahan distribusi atau produksi terkait ketersediaan barang di produsen

5.  Keterlambatan pembayaran pada proyek

Masalah keterlambatan pembayaran ini bisa terjadi pada beberapa pihak dengan tingkat dampak yang berbeda:

a.    Pembayaran kontraktor ke pekerja (pekerjaan bisa terhenti)

b.    Pembayaran dari pemilik proyek ke kontraktor (progres melambat/slowdown)

c.    Pembayaran kontraktor ke supplier (pengiriman material tertunda)

6.  Peralatan kerja yang tidak memadai

a.    Jumlah peralatan kerja tidak sebanding dengan jumlah pekerja

b.    Kapasitas peralatan tidak sesuai dengan volume pekerjaan

7.  Penggunaan mesin yang tidak efektif dalam pekerjaan

a.    Jenis mesin yang digunakan tidak sesuai untuk pekerjaan yang dilakukan

b.    Kondisi mesin bermasalah dan sering mengalami kerusakan

8.  Metode pelaksanaan pekerjaan yang tidak efisien

a.    Adanya kendala teknis pada pelaksanaan suatu pekerjaan

b.    Pelaksana proyek memiliki kompetensi yang minim atau tidak sesuai bidangnya

c.    Pelaksana tidak memiliki pengalaman pada suatu pekerjaan khusus tertentu

9.  Permasalahan desain konstruksi  

    a.  Ketidaklengkapan atau kesalahan gambar konstruksi

    b.  Perubahan rancangan atas permintaan pemilik proyek

    c.  Desain konstruksi tidak dapat diaplikasikan dan harus ada sinkronisasi

10.  Intensitas perbaikan pekerjaan yang tinggi

    a.    Pengawasan pelaksanaan pekerjaan yang kurang

    b.    Kesalahan gambar kerja (desain awal atau penafsiran ke gambar konstruksi)

11.  Sistem pengelolaan proyek yang kurang profesional

    a.    Komunikasi dan koordinasi yang tidak lancar (internal/eksternal)

    b.    Analisis dan pengendalian kinerja yang lemah pada proyek

    c.    Pengambilan keputusan yang lambat oleh pihak terkait yang berwenang

12.  Aspek iklim, lingkungan dan sosial

    a.    Hambatan geografis lokasi proyek dan kondisi cuaca

    b.    Kendala aksesibilitas dan masalah keamanan lokasi proyek

    c.    Tingkat penerimaan masyarakat terdampak proyek yang kurang baik

13.  Insiden kecelakaan kerja di lokasi proyek

    a.    Tidak adanya penerapan mitigasi K3

    b.    Faktor psikologis pekerja yang menyebabkan penurunan efisiensi sesaat

    c.    Pekerjaan terhenti cukup lama

Wah, kalau harus memperhatikan semua faktor di atas, sudah pastilah banyak proyek akan terlambat, ya? Eh, jangan pesimis dulu, Rekan-rekan. Tidak semua proyek memiliki permasalahan yang sama, kalaupun ada yang sama, intensitas dan kompleksitasnya pun akan berbeda-beda. Ingatlah apa yang sering dikatakan oleh para pakar, bahwa proyek itu bersifat unik. Ke-13 faktor di atas tidak semuanya akan muncul pada proyek di tempat Anda bekerja. Namun beberapa di antaranya pasti pernah dialami dan beberapa faktor lainnya mungkin belum terjadi. Dengan mengetahui ke-13 faktor yang merupakan pengalaman dari banyak praktisi, maka kita akan dapat mempersiapkan diri untuk mengantisipasi keterlambatan pada proyek konstruksi.

Apakah kita harus menghilangkan semua faktor atau akar permasalahan tersebut agar proyek berjalan tepat waktu? Tentu saja agak mustahil bila mengharapkan kondisi yang ideal seperti itu. Tapi paling tidak, kita mesti mencegah atau mengurangi akibat yang akan terjadi. Ikuti saja hukum Pareto, dengan fokus pada beberapa faktor dominan yang telah atau berpotensi akan terjadi di proyek. Selanjutnya, kita mencari akar permasalahan dan solusinya melalui konsultasi serta diskusi dengan para pemangku kepentingan yang terkait. Bila sudah ditemukan solusinya dan diterapkan, maka diharapkan agar beberapa pekerjaan yang terlambat dapat dikejar kembali, sehingga secara keseluruhan akan mengurangi atau bahkan menghilangkan resiko keterlambatan proyek konstruksi.